Diposkan pada Ngelmu Sastra

Ngelmu Satra

“Ilmu sastra dipelajari dari akarnya, bukan dari bunganya.”
Kata Kak Lina si guru sastraku yang selalu membuatku semangat menimba ilmu

Ketika menyusun sebuah karya tulis, tentunya di BAB 2 pada bahasan landasan teoritis kita mengutip buah pemikiran sesorang yang kita jadikan sebagai rujukan teori. Urutan rujukan teoritis bisa dimulai dari landasan filosofis para filusuf, para ahli ilmu kesusastraan—dalam  hal ini guru-guru besar ilmu sastra, lalu kemudian peneliti.

Karya Sastra (Sebuah Pengantar)

Sumber literasi: adabundaguru.com

Kata sastra dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sanskerta; akar kata sas-, dalam kata kerja turunan berarti ‘mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk, atau instruksi. Akhiran –tra biasanya menunjukkan alat, sarana. Maka, dari itu sastra dapat berarti ‘alat untuk mengajar, buku  petunjuk,   buku  instruksi  atau  pengajaran’.  Awalan   su-   berarti  ‘baik,    indah’ sehingga susastra dapat dibandingkan dengan belles-lettres (Teuuw 1984: 23).

Lebih jauh lagi, dinyatakan Semi (2008: 2) sastra dapat dipandang  sebagai suatu  objek yang memiliki dua fungsi pokok, yaitu menyampaikan ide, teori, emosi, sistem berpikir, dan pengalaman keindahan manusia. Selain itu, sastra berfungsi pula untuk menampung ide,  teori, emosi, sistem berpikir, dan pengalaman keindahan manusia.

Menurut Klarer (2004: 3), genre merujuk pada salah satu bentuk dari tiga kesusastraan klasik seperti epicdrama  atau  poetry.  Kemudian, untuk menggantikan epic karena kemiripannya     dengan     poetry      maka      prose      diperkenalkan      untuk      karya-karya seperti novel dan short story. Namun, berikutnya  Klarer  membuat  suatu  pengklasifikasian terhadap genre yang disebutya major genres yaitu fiction, poetry, drama, dan film. Klarer menambahkan Bildungsroman (novel of education), epistolary novel, historical novel, satirical novel, utopian novel, gothic novel dan detective novel pada jenis novel yang sebelumnya telah disebut Kirszner-Mandell.

1. Prosa fiksi

Istilah  prosa  fiksi  atau   cukup   disebut   karya   atau   fiksi,   biasa   juga   diistilahkan dengan prosa cerita, prosa narasi, narasi, atau cerita berplot. Pengertian prosa fiksi tersebut adalah kisahan, atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku  tertentu  dengan  pemeranan, latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita (Aminuddin, 2010: 66). Termasuk ke dalam jenis prosa cerita adalah novel, novelet, dan cerita pendek.

2. Puisi

Jenis sastra yang kedua adalah puisi. Cukup banyak  pengertian  yang  dikemukakan tentang puisi. Suatu pengertian ada kecenderungan mendasarkan diri pada  peninjauan  aspek tertentu dari karya puisi. Dengan demikian, suatu batasan tidak  menggambarkan  secara  penuh objek puisi sebagai karya sastra. Dari berbagai batasan puisi yang ada, Waluyo (1987: 25) mendata beberapa hal yang dapat mengungkapkan pengertian puisi, yaitu: (a) dalam puisi terjadi pengkonsentrasian atau pemadatan segala unsur kekuatan bahasa;  (b)  dalam  penyusunannya, unsur- unsur bahasa iotu dirapikan, diperbagus, diatur sebaik- baiknya dengan memperhatikan irama dan bunyi; (c) puisi  adalah  ungkapan pikiran  perasaan  dan  pikiran  penyair  yang berdasrkan mood atau pengalaman jiwa dan bersifat imajinatif.

3. Drama

Drama adalah cerita atau tiruan prilaku manusia yang dipentaskan (Semi, 1984: 156). Drama dapat ditulis dalam bentuk prosa maupun puisi serta memiliki dua  sisi  yakni sebagai seni yang dapat dinikmati dengan pembacaan dan sekaligus dengan penontonan.

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa ada perdedaan antara drama dengan puisi. Kendatipun demikian, dari aspek isi dan struktur drama mempunyai persamaan pula dengan  dua jenis karya sastra yang lain tadi, yaitu: (1) sama- sama menggunakan medium bahasa  yang indah, bergaya, dan memikat; (2)  sama-sama  berbicara  tentang  nilai- nilai  kemanusiaan  yang dapat memberi faedah kepada pembaca maupun penonton; (3) sama- sama mementingkan nilai keindahan dan kemenarikan sehingga dalam penciptaannya harus  memperhatikan  azas keseimbangan , keutuhan dan keselarasan.

Selain memiliki kesamaan dengan prosa fiksi dan puisi, drama mempunyai beberapa kharanteristik.   Adapun   kharakteristik   drama   secara  singkat   dapat  dinyatakan   sebagai berikut:
Drama mempunyai tiga dimensi, yakni dimensi sastra, gerakan, dan ujaran; (2) drama memberikan pengaruh emosional  yang  lebih  kuat,  dibandingkan  dengan  puisi  dan  fiksi;  (3) drama yang dipentaskan lebih lama diingat; (4) drama memiliki  konsentrasi  dan  intensitas;  (5) drama terbatas dalam wilayah  penceritaan  dan  tempat;  (6)  drama  memiliki  keterbatasan  dari segi kepantasan; (7) drama dibatasi oleh keterbatasan intelegensi penonton; (8) drama memiliki jumlah  episode  yang  terbatas;  (9)  drama  memiliki  keterbatasan bentuk  yaitu  melulu percakapan.

4. Film

Jenis sastra yang terakhir adalah film. Dalam urainnya tentang ragam drama ditinjau  dari aspek konteks dan tempat pentas Endraswara (2011:  142)  menyatakan  bahwa  film  termasuk salah satu jenis drama disamping drama televisi. Terlepas dari  ekspresi  makna  yang  berbeda, drama dan film seringkali diletakkan di  bawah  seni  pertunjukan  karena  penggunaan  aktornya. Dari perspektif formalis- strukturalis bagaimana pun, film terlihat lebih  dekat  dengan  novel  dari pada drama karena menggunakan karakter tetap (yaitu direkam) (Klerer 2004:135).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, film adalah lakon ( cerita) atau gambar hidup (Depdiknas, 2001: 316). Selanjutnya, menurut sumarno (1996: 27) film adalah media ekspresif artistik  yaitu  alat bagi  seniman  film  untuk  mengutarakan  ide,  gagasan,  lewat   wawasan keindahan.

Tujuan Mempelajari Sastra

Tujuan pengajaran  sastra  adalah  untuk  membangun  pengetahuan  tentang  sastra.  Aku  sendiri  mempelajari dunia sastra lantaran ingin menjadi seorang penulis yang memiliki basic ilmu dari akarnya. Meskipun seorang praktisi, namun mempelajari bidang keilmuan  ini  menjadi  suatu  hal yang wajib bagiku. Pada blog ini fokus  pembahasan  sastra  akan  berfokus  pada  jenis  sastra puisi.

avatar Tidak diketahui

Penulis:

Mulai kini, walaupun kita telah sering bersyukur kepada Allah terhadap materi dunia yang kita terima, marilah kita juga bersyukur bahwa Allah masih mengizinkan kita menjadi hamba-Nya yang terpilih. Hamba yang masuk ke dalam golongan orang-orang beriman.

Tinggalkan komentar